Dibanding Ramen, Soba Ternyata Kurang Disukai di Indonesia, Restoran Jepang Pun Tutup

Toshiyukji Kamada CEO Sagami Holdings melihat Indonesia memang potensial untuk bisnis makanan Jepang. Namun kenyataannya dua toko Sagami di Indonesia mengalami kebangrutan, ditutup tiga tahun lalu. Awalnya membuka restoran soba di Aeon Mall di BSD Tangerang Selatan kerjasama dengan Golden Group tahun 2015 lalu ditutup tahun 2018.

Demikian pula buka di Plaza Senayan 2014 ditutup tahun 2016. "Tampaknya orang Indonesia mungkin lebih suka ramen ya ketimbang soba. Namun kami tetap melihat Indonesia sebagai pasar yang potensial untuk masa depan," paparnya lagi. Saat ini Sagami masih konsentrasi untuk membesarkan pasarnya ke Vietnam dan ke Itali.

Setelah kedua negara itu kita bangun dan berhasil nantinya barulah akan kembali lagi ke Indonesia. "Ya mungkin masih dua tiga tahun mendatang lah kita kembali lagi ke Indonesia," tambahnya. Saat ini masih fokus ke beberapa negara lainnya.

Masih belum tahu bagaimana mengembangkan pasarnya di Indonesia. Namun dari kegagalan di masa lalu Sagami berusaha akan maju lagi dengan berbagai upaya dan strategi barunya agar idak gagal lagi dalam memasarkan produknya di Indonesi anantinya. Sementara itu upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif dengan melalui zoom terus dilakukan bagi warga Indonesia secara aktif dengan target belajar ke sekolah di Jepang nantinya. Info lengkap silakan email: [email protected] dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.