Beredar Video Kemunculan Macan Tutul di TPSA Ciniru Kuningan, Ini Penjelasan Kepala Desa

Video yang menunjukan macan tutul bebas liar di kawasan Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) di Desa Ciniru, Kecamatan Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat, viral di media sosial. Menyikapi hal tersebut Kepala Desa Ciniru Nana Supriatna membenarkan soal video yang beredar terebut. Numun, ia tidak mengetahui siapa orang yang merekam video tersebut.

Dia mengatakan, dengan beredarnya video ada macan tutul itu membuat pemerintah desa selalu memberikan pemahaman terhadap lapisan masyarakat. Terutama mengenai keselamatan saat berada di kawasan hutan desa sekitar. "Sebenarnya warga kami tidak pernah ada yang melihat langsung sosok macan tutul tersebut. Namun, dengan adanya video itu, saya setiap agenda di masyarakat selalu kasih tahu warga untuk hati hati dan selalu waspada," katanya.

Mengenai kabar hoaks atau bukan, Nana menjawab bahwa kawasan Desa Ciniru ini memiliki luas wilayah perbatasan dengan Desa Garatengah dan Desa Singkup. "Untuk wilayah perbatasan desa kami dengan desa tetangga memang ada beberapa lahan garapan warga. Nah, ketika adanya macan tutul itu bisa iya ada atau tidak ada," katanya. Mengenai video viral macan tutul, kata Nana mengaku bahwa video itu dibuat oleh pemburu dengan membawa anjing buruan.

Kemudian, kenapa Macan Tutul itu terlihat takut dalam video beredar, karena Macan itu lebih kecil ukurannya dari Macan Tutul dewasa. "Ya katanya sih, Macan Tutul itu lebih kecil dari ukuran normal. Sehingga ketika Anjing pemburu menggonggong itu Macan Tutul terlihat ketakutan begitu," katanya. Sebelumnya, Kepala UPT Damkar Kuningan Khadafi mengakui kebenaran soal video tersebut

Pihaknya pun telah mendapat pemberitahuan dari warga tentang adanya seekor macan tutul. "Betul, video itu dapat kiriman dari warga untuk selalu berhati hati. Disebarluaskan video itu untuk informasi bagi bapak/ibu diwilayah beradanya macan tutul dimaksud, sedang dipantau oleh warga sekitar, dan sangat disarankan untuk tidak dilakukan penembakan/dibunuh karena hewan/satwa dilindungi," ungkap Khadafi dalam keterangan kepada wartawan. Alasan tidak boleh dibunuh satwa karnivora itu, kata dia mengklaim bahwa sosok Macan Tutul itu sedang dilakukan pengawasan bersamaan dilakukan koordinasi dengan pihak BKSDA (Balai Kawasan Sumber Daya Alam) Cirebon.

"Tadi diketahui atas pelapor dari Bapak Nana sekaligus pengawas hutan lindung setempat. Bahwa hewan pemakan daging itu sedang dilakukan pengawasan," katanya. Kejadian Macan Tutul muncul di lingkungan hutan kawasan TPSA itu terjadi sejak hari Kamis tanggal 18 November 2021 sekitar pukul 13.00 WIB. "Kejadian itu pada hari Kamis dan kami baru dapat informasi dari penjaga wilayah hutan lindung di Desa Ciniru Kecamatan Jalaksana. Sampai saat ini masih dilakukan pantauan di sekitaran lokasi hutan lindung dimaksud," katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.